• Beranda
INTI PUSTAKA
Perpustakaan
  • Home
  • CSR Guru
  • INTI PUSTAKA
  • PERPUSTAKAAN
    • Category
      • Category
      • Category
      • Category
      • Category
    • Category
    • Category
    • Category
  • ICMI
  • JIPI
  • TRAINING
  • Editor's picks
  • Top Stories
    • Category
    • Category
    • Category
    • Category
You are here : Home »
Tampilkan postingan dengan label Pesantren. Tampilkan semua postingan
PT Telkom Indonesia Tbk bekerjasama dengan Harian Umum Republika menyelenggarakan pelatihan internet untuk pesantren sebagai wujud tanggungjawab sosial melalui program Corporate Social Responsibility (CSR).

Pelatihan yang dikenal dengn sebutan "Santri Indigo" ini
dilaksanakan di Pondok Pesantren Alquran KH Abdullah Syafi’ie, Pulo Air, Sukabumi, pimpinan KH.Abdul Rasyid AS

Target pelatihan adalah agar para santri dapat ikut berdakwah serta dapat menjadi penetrasi informasi di dunia maya dengan mnggunakan fasilitas blogger yang tersedia di Internet.

Pelatihan diikuti oleh 75 peserta terdiri dari 60 santri dan 15 ustad yang berasal dari 21 pesantren dan sekolah Aliyah di Sukabumi dan sekitarnya. Selanjutnya para santri akan bergabung dengan 375 alumni sebelumnya dalam wadah komunitas santri indigo.

Pelatihan yang dilaksanakan selama dua hari itu dibuka oleh Sekretaris Daerah Kabupaten Sukabumi Drs Deden Achadiyat. Hadir Sebagai pembicara Direktur IT dan Suplay PT Telkom (Indra Utoyo), Setya Hermawan (General Manager Kandatel Telkom Sukabumi), Kuncoro WastuWibowo (Telkom), Subroto (wakil Redaktur Pelaksana HU Republika), sedangkan proses pembuatan webblog dipandu oleh Slamet Riyanto dan M. Afif keduanya dari Republika Online.

Pelatihan juga diisi dengan materi proses kreatif digital dengan berdiskusi dengan grup musik Debu.

Pelatihan yang mengusung slogan "Bangun Kecerdasan Bangsa" ini merupakan angkatan ke enam dalam kurun waktu satu tahun.
Akhir Pelatihan, Awal Perubahan Syiar: Santri Indigo telah membuka wawasan santri untuk bersyiar menggunakan internet.

Cuaca di Sukabumi, Jawa Barat belakangan ini kurang bersahabat. Hujan yang kerap mengguyur kota ini membuat suhu semakin dingin. Namun, hal tersebut tidak menyurutkan minat peserta Pelatihan Santri Indigo angkatan keenam. Selama dua hari, dengan semangat mereka mengikuti rangkaian pemberian materi yang diselenggarakan di di Pondok Pesantren Alquran KH Abdullah Syafi’ie, Pulo Air, Sukabumi, akhir pekan lalu.

Santri Indigo merupakan salah satu program tanggung jawab sosial (corporate social responsibility/CSR) PT Telekomunikasi Indonesia (Telkom) dan Harian Umum Republika. Tujuan program ini antara lain memberikan wawasan, pengetahuan dan keterampilan mengenai internet kepada para santri. Sehingga para santri dapat mengembangkan diri setelah lulus dan berpartisipasi dalam membangun bangsa.

Tujuan lainnya adalah untuk membentuk komunitas pesantren yang dapat menjadi sarana syiar digital. Serta membentuk jejaring silaturahmi di antara para santri secara luas yang tidak dibatasi ruang dan waktu. Sebelumnya, pelatihan serupa telah diselenggarakan di lima kota, yaitu Depok, Bandung, Tangerang, Ciamis, dan Cirebon. Dengan jumlah alumni mencapai 375 santri.

Pelatihan kali ini merupakan pelatihan angkatan ke enam dan terakhir untuk periode 2007/2008. Tercatat ada sekitar 75 peserta yang berasal dari 21 pondok pesantren di Kabupaten dan Kota Sukabumi. Antara lain, SMA Al Musthofa, MA Yaspi Darussalam, SMA Hayatan Thayibah, SMK Ummul Quro, SMK Ar Rahmah, MA Darul Mutnalimin, MA Al Istiqomah, SMK Al Falah, STM dan SMEA Yaspinda, MA dan SMA Al Masthuriyah, MA Darul Islam, MA dan SMK Syamsul Ulum, dan MA Attaufiqiyah.

Acara dibuka oleh Sekda Sukabumi, Deden Achdiyat. Dalam sambutannya, ia sangat mendukung upaya yang telah dijalankan oleh Telkom dan Republika ini. Ia mengatakan, dengan pengetahuan akan dunia digital yang semakin meningkat, akan turut meningkatkan kualitas lulusan pesantren. ‘’Dengan begitu, diharapkan dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia secara keseluruhan,’’ tambahnya.

Pembicara selanjutnya adalah GM Kandatel Sukabumi Telkom, Setya Hermawan yang memberikan materi mengenai koneksi internet. Di awal kelas, ia menjelaskan mengenai pengertian internet dan apa fungsi dan kelebihan yang dimilikinya. Internet, katanya, bisa dikatakan merupakan kunci untuk pendidikan dan ilmu pengetahuan, komunikasi, ketenaran dan sumber ekonomi.

‘’Dengan internet, seseorang dapat menemukan apa pun yang dicari. Tidak hanya hal-hal yang memberikan kebaikan, namun juga hal-hal yang buruk. Karena itu, kuncinya ada di orang yang menggunakan internet,’’ jelas Setya.

Setya juga memberiakan informasi mengenai berbagai teknologi terkait internet. Seperti teknologi wi-fi dan 3G. Serta tren pemakaian internet di masa mendatang.
Para santri juga mendapat kesempatan untuk belajar menulis, khususnya di media massa. Materi ini disampaikan oleh Asisten Redaktur Pelaksana Republika, Subroto.

Acara dilanjutkan dengan pemberian materi mengenai membuat dan mengelola blog yang disampaikan oleh Slamet Riyanto dari Republika Online. Yanto menegaskan perlunya dakwah di Internet agar dapat menjadi penetrasi informasi. Lebih lanjut Yanto memberi contoh dengan mencoba menelusuri melalui search engini google di intenet. Kata "porn" ditemukan sebanyak 229 juta item, sementara kata "Islam", "Moslem", "Pesantren" seluruhnya tidak lebih dari 100 juta item. Jadi marilah kita "putihkan" internet demi anak cucu kita nanti kata Yanto yang secara tetap memberi materi pembuatan Blog pada 6 pelatihan santri indigo ini.

Pada hari kedua, Direktur IT & Supply Telkom, Indra Utoyo memaparkan mengenai internet sebagai wahana syiar digital. Ke depan, jelasnya, perkembangan zaman akan menuju era konseptual (ide). ‘’Siapa yang memiliki konsep atau ide ia yang akan menguasai dunia dan menjadi pemimpin,’’ ujar Indra.

Untuk menuju era itu, salah satu yang yang akan berperan adalah internet. Hanya saja, internet tidak hanya dapat dimanfaatkan untuk kebaikan saja. Untuk hal-hal buruk pun internet sangat berguna. Untuk itu, penggunaan internet harus dibarengi dengan budaya digital. Yaitu, bangga pada diri sendiri dan berdedikasi, inovatif, memiliki kredibilitas dan etika, dijalankan secara holistik dan terintegrasi, terbuka dan dapat dibagi, mengapresiasi dan menghargai karya orang lain, dan harus sesuai aturan.

Untuk itu, Indra menghimbau kepada para santri untuk menggunakan internet untuk keperluan syiar Islam. ‘’Jika menggunakan internet, syiar bisa dilakukan oleh siapa saja. Karena setiap orang memiliki kesempatan dan akses yang sama di internet. Dengan begitu, syiar Islam dapat dilakukan tanpa mengenal ruang dan waktu,’’ ungkap Indra.

Para santri pun mulai menyadari fungsi dan kegunaan internet. Selama ini banyak santri yang memandang internet sebagai sesuatu yang buruk. Seperti Rizki, santri dari MA Syamsul Ulum. ‘’Melalui pelatihan ini saya baru tahu kalau internet bisa memberikan manfaat dan juga dapat digunakan untuk syiar Islam,’’ paparnya.

Tidak hanya Rizki. Karena, meskipun mereka tahu tentang internet, tapi pengetahuannya hanya sedikit. Fikri misalnya, santri dari MA YLPI Ibadurrahman ini hanya tahu internet sebatas chatting dan alat bantu untuk mencari informasi ketika ada tugas sekolah. ‘’Saya sangat senang mengikuti pelatihan ini. Terutama materi mengenai cara membuat blog. Sayang acaranya hanya sebentar,’’ ujar Fikri.

Angkatan terakhir
Pelatihan kali ini merupakan angkatan terakhir dari rangkaian Pelatihan Santri Indigo periode 2007/2008. Untuk itu, Indra mengatakan akan mengadakan evaluasi terkait pelatihan ini. Akan ada penilaian efektivitas materi yang diberikan. Namun, Indra mengatakan akan tetap menggelar pelatihan ini. ‘’Kami pun berencana untuk melakukan penambahan materi yang diberikan. Sehingga para santri menjadi lebih kaya dan dapat lebih memanfaatkan internet untuk keperluan dakwah,’’ jelas Indra.

Juara lomba blog Indonesia yang juga karyawan Telkom, Kuncoro Wisnuwibowo menjadi pembicara terakhir. Ia memaparkan mengenai cara mempromosikan blog. Di antara beberapa cara, katanya, cara yang paling efektif adalah dari sisi konten. Blog harus diisi dengan konten yang menarik, fokus pada satu masalah, berbobot, dan unik. Serta harus disajikan dengan ilustrasi dan desain yang menarik minat orang lain.m‘’Yang juga harus diingat adalah harus dilakukan secara berkeseinambungan. Tidak boleh kemudian berhenti di tengah jalan,’’ jelas Kuncoro.

Begitu pula dengan Pelatihan Santri Indigo ini. Angkatan ini boleh jadi merupakan angkatan terakhir untuk periode 2007/2008. Namun bukan berarti menjadi akhir untuk selamanya. Justru harus menjadi awal untuk kegiatan syiar menggunakan media baru. Yaitu siar Islam menggunakan internet.ci1/yto Lihat juga http://www.republika.co.id/berita/13109.html
Pelatihan Internet Pesantren tahap ke IV akan digelar tanggal 23 dan 24 Juni 2008 di Pondok Pesantren Darussalam - Ciamis - Jawa Barat, dan akan dibuka oleh Gubernur Jawa Barat H Ahmad Heryawan.

Pelatihan dengan sebutan santri indigo ini akan diikuti oleh 75 santri dan ustad yang terdiri dari 21 pesantren di wilayah Ciamis.

Target pelatihan yang diusung oleh PT Telkom Indonesia Tbk dan HU Republika ini adalah agar para santri bisa membuat dan memiliki web dalam bentuk Blok dan membentuk sebuah komunitas yang tujuannya untuk berdakwah melalui dunia internet.

Temapt training adalah di Kampus Pondok Pesantren Darussalam, Jl KH Ahmad Fadlil I Ciamis Jabar. Pesantren yang diasuh oleh K.H. IRFAN HIELMY dinilai representatif untuk pelaksanaan training yang syarat dengan teknologi informasi ini.

Program CSR PT Telkom dan REPUBLIKA yang dituangkan dalam pelatihan internet untuk pesantren berlangsung di Pondok Pesantre Kempek - Palimanan, Cirebon.

Seperti pelatihan sebelumnya, saya selalu mengawal pelatihan dari awal sampai pungkas. Sebagai pengawal maka siap untuk menjadi ban serep kapanpun ketika salah satu roda mengalami gangguan.

Di pondok pesantren terbesar diwilayah Palimanan Cirebon ini seperti biasa saya berperan sebagai MC saat acara seremoni, hadir sebagai motivator Prof Jimly Assidiqie, anggota mahkaman Konstitusi RI.

Jatah ngisi sebagai pengajar tidak berubah yaitu empat jam, bahkan lebih. Dua jam untuk teori Blog dan internet dan dua jam berikutnya untuk praktik membuat blog.

Pelatihan yang berlangsung dua hari mulai tanggal 25 dan berakhir 26 Agustus 2008 ini cukup menguras tenaga, karena udara yang panas dan maklum para peserta belum semuanya mengenal tentang teknologi informasi.

Apa yang saya peroleh dari pimpinan pondok yaitu Kyai Aqil Siraj hampir sama dengan kyai yang lain yaitu keikhlasan dan istiqomah dalam membangun sebuah peradaban di pesantren (Slamet Riyanto)
CIAMIS -- Harian Umum Republika bersama PT Telkom Indonesia Tbk menggelar acara pelatihan internet di Pondok Pesantren Darussalam, Kecamatan Cijeungjing, Ciamis, Jawa Barat. Acara mengambil tema 'Internet Pesantren Sebagai Wahana Syiar Digital'.

Acara tersebut digelar sejak Senin hingga Selasa (23-24/6). Sedikitnya, ada 75 santri dari 26 pesantren yang tersebar di 12 kecamatan mengikuti kegiatan tersebut. Selain diisi pelatihan internet dan komputer, acara juga diisi pelatihan menulis dan pemberian motivasi diri. Khusus materi yang disebut terakhir, para santri mendapat kesempatan sangat istimewa karena yang memberikannya adalah Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan. Materi motivasi tersebut berlangsung sekitar pukul 13.00.

Dalam ceramahnya, Heryawan mengatakan bahwa kemajuan diri sangat berpengaruh dalam memotivasi kemajuan bangsa dan negara. Kata dia, keberlangsungan negara sangat erat dipengaruhi oleh keteguhan bangsanya. ''Karena itu bangsa Indonesia harus berperan dalam membangun negaranya. Bisa dari berbagai aspek,''ucap Heryawan.

Dijelaskan, untuk memacu kemajuan diri, faktor yang utama harus dilakukan adalah pembenahan aspek pendidikan. Aspek tersebut, menurut Heryawan, akan bisa menunjang semua keberhasilan yang sedang dibangun di berbagai sektor. Karena itu, penting juga bagi pemerintah untuk selalu meningkatkan pendanaan untuk sektor pendidikan. ''Insya Allah, di Jawa Barat kami sudah berbulat tekad untuk menggolkan anggaran pendidikan sebesar 20 persen,'' ungkap Heryawan yang langsung disambut tepukan tangan para santri dan tamu undangan yang hadir.

Heryawan juga mengungkapkan, saat ini sedang diwacanakan agar daerah yang kemampuan APBD-nya sudah mencapai Rp 1 triliun atau lebih, maka pemerintah pusat tidak akan memberikan dana alokasi khusus (DAK). Dana tersebut, kata dia, salah satunya diperuntukkan bagi pendanaan pendidikan di daerah. ''Jadi, kalau ada daerah yang APBD-nya besar, maka DAK-nya akan dialihkan ke daerah yang lebih membutuhkan,'' tutur Heryawan.

Selain gubernur, acara tersebut dihadiri Pimpinan Ponpes Darussalam, KH Irfan Hielmy, Kepala Perwakilan Republika Jawa Barat, Yusup Supriyatna, dan Kepala Kantor Daerah PT Telkom (Kandatel) Ciamis, Rosanto. Khusus untuk pelaksanaan acara tersebut, PT Telkom sengaja membangun jaringan internet Speedy baru ke pesantren tersebut.

Menurut Kandatel Ciamis, Rosanto, pembangunan jaringan baru di kawasan tersebut karena selama ini belum ada jaringan internet Speedy. ''Makanya kita sengaja pasang baru karena kita ingin agar para santri mendapat kelancaran berjelajah internet dengan cepat saat pelatihan,'' ungkap Rosanto. Selanjutnya, kata dia, jaringan yang ada itu akan digunakan oleh warga dan lembaga pesantren yang membutuhkan koneksi internet cepat.

Sementara itu menurut Staf Bagian Republika Online, Slamet Riyanto, tujuannya diadakannya pelatihan, semata-mata karena ingin memberikan akses yang lebih mudah bagi para santri untuk melakukan syiar dakwah melalui internet. Selama ini, menurut Slamet, akses berinternet sering disalahartikan para remaja. Padahal, media internet memiliki peran yang luar biasa dalam menyebarkan informasi. ''Penyebarannya sampai ke seluruh dunia. Itu sangat dahsyat,''tandas dia. mus. Sumber: Republika, 25 Juni 2008, Hal: Nasional
Internet dapat menjadi sarana syiar digital
Internet ibarat pisau bermata dua. Di satu sisi, internet berbahaya kalau disalahgunakan, misalnya menyangkut masalah pornografi. Namun di sisi lain, bila dipergunakan dengan baik, internet juga menawarkan peluang dan memberikan manfaat yang sangat banyak, termasuk dalam bidang dakwah.

Karena itu, generasi muda perlu sekali mengenal dan memahami (awareness) tentang internet, agar bisa mengambil manfaat yang sebesar-besarnya dan terhindar dari hal-hal yang tidak baik. Hal ini pun berlaku bagi kalangan pesantren yang merupakan salah satu pusat pencetak kader-kader dakwah di masa depan. Para santri harus melek teknologi digital (internet).

Berangkat dari pemikiran tersebut, PT Telkom dan harian umum Republika meluncurkan program Corporate Social Responsibility (CSR) untuk kalangan pesantren bertajuk 'Santri Indigo'. ''Kegiatan ini bertujuan agar para santri tidak gagap teknologi (gatek) internet. Kita berharap dari kegiatan ini akan lahir santri-santri yang berkarya dan berbudaya digital, mengedepankan mentalitas positif dalam mencipta dan berkarya, dan membina silaturahmi dengan membentuk Indonesia Digital Community (Indigo),'' kata Direktur IT PT Telkom Indra Utoyo.

Pelatihan Santri Indigo Angkatan Pertama digelar di Pesantren Al-Hamidiyah, Depok, Jawa Barat, 22-23 Desember 2007. Pelatihan tersebut diikuti 60 santri dan 15 ustadz yang berasal dari sembilan pesantren diDepok. Yakni, Pesantren Al-Hamidiyah, Al-Hidayah, Hidayatullah, Al-Ittihad,
Al-Karimiyah, Nurul Huda, Qatrun Nada, Al-Awwabin, dan Nurul Zahro.
Acara pelatihan tersebut diresmikan oleh Walikota Depok Nur Mahmudi Ismail, dan dihadiri antara lain, Direktur Marketing PT Republika Media Mandiri (RMM) Nuky Surachmad, Pemimpin Redaksi Harian Umum Republika
Ikhwanul Kiram Mashuri, Eksekutif General Manager Telkom Divisi Regional Jakarta Adeng Ahmad, dan GM Telkom Bogor Pasabri.

Kegiatan ''pesantren goes to digital'' ini diberikan kepada santri dalam bentuk Workshop selama dua hari. Hari pertama berupa motivasi dan teori tentang beberapa bidang ilmu digital yang diperlukan. Sedangkan hari kedua, santri langsung praktik di komputer untuk membuat digital library, blog, networking dan lain-lain. ''Untuk itu, tiap kelompok peserta (pesantren) mendapatkan satu meja dan beberap komputer, agar bisa langsung praktik di tempat,'' kat Ketua Panitia Pelatihan Santri Indigo, Dedik Supardiono.

Bahaya versus Manfaat
Indra Utoyo menjelaskan, ibarat pedang bermata dua (sebagaimana halnya produk teknologi lain), mempunyai sisi baik dan buruk. Apabila sisi buruk yang digunakan, maka kerugianlah yang didapat. Namun jika sisi baik teknologi yang dimanfaatkan, maka kemajuan dan keuntungan yang akan diraih. ''Mentalitas positif dalam memanfaatkan internet akan membawa pada kemudahan-kemudahan dalam hidup. Para santri yang melakukan dakwah akan sangat terbantu dengan adanya teknologi internet. Internet dapat menjadi sarana syiar digital,'' tandas Indra Utoyo.

Hal senada diungkapkan Muhammad Fahmi Aulia, Senior IT Business Development Rileks.com. Ia mengemukakan, banyak ancaman atau bahaya di internet, misalnya pornografi, bisnis palsu (penipuan), carding (pencurian identitas kartu kredit), virus dan hacking. ''Namun di sisi lain, banyak pula manfaat internet, misalnya pengetahuan (nyaris tanpa batas), sarana komunikasi murah (email, chat, telepon internet), sarana promosi massal (bisnis), nyari tidak ada batas wilayah dan waktu, serta sarana sosial yang begitu luas,'' papar Muhammad Fahmi Aulia.

Ariyanto dari MACS 909 menjelaskan, begitu banyak manfaat yang bisa dipetik dari teknologi digital. ''Kita bisa membuat digital illustration, digital imaging, digital electronics, digital website, digital music, e-book, blog, digital video, sound designs, digital photography dan lain-lain,'' urainya.
Karena itu, para santri dan da'i pun perlu memanfaatkan dan mengoptimalkan teknologi digital tersebut, untuk berbagai hal yang positif dan mendidik, termasuk berdakwah. ''Jadilah santri dan da'i yang kreatif. Manfaatkanlah teknologi digital. Biarkan dunia mendengar ide-idemu melalui teknologi digital,'' tandas Ariyanto.


Pesantren dan internet
Fahmi Aulia menegaskan, bahwa pesantren pun perlu sekali memanfaatkan internet dengan sebaik mungkin. ''Internet merupakan media dakwah, untuk berjihad, serta memberitahukan kebenaran. Internet pun merupakan media silaturahim dengan sesama saudara (Muslim) tanpa mengenal batas (ruang dan waktu),'' tegasnya.Ia mencontohkan internet sebagai media dakwah. Kini banyak situs atau media online yang menyajikan informasi mengenai keislaman/dakwah, termasuk mengenai ekonomi syariah. Misalnya, Hidayatullah.com, eramuslim.com, Al-ikhwan.net, Syariahonline.com, khutbahjumat.wordpress.com, Dakwatuna.com, dan Tausiyah275.blogsome.com.

Meskipun demikian, jumlah informasi mengenai Islam yang tersedia di internet masih sangat minim dibandingkan dengan informasi-informasi lainnya (yang tidak bermanfaat). ''Kalau kita perhatikan mengenai perbandingan antara informasi Islam dan hal-hal lain yang tidak bermanfaat, hati kita akan miris, karena jumlahnya masih sangat jomplang,'' kata Kabag Sistem Informasi harian umum Republika, Slamet Riyanto.Ia lalu mencontohkan kata ''porn'', ''Islam'' dan ''moslem''. ''Kalau kita searching di Google, data hari Ahad, 23 Desember 2007, pukul 10.00, kata ''porn'' mencapai 329 juta item, sedangkan kata ''Islam'' ada 91,5 item dan moslem ada 2,95 item,'' paparnya.

Karena itu, umat Islam perlu melakukan penetrasi item mengenai Islam, pesantren dan lain-lain yang berkaitan dengan dakwah Islamiyah ke internet sebanyak-banyaknya. ''Inilah dasar kami mengadakan Pelatihan Santri Indigo. Para santri mempunyai dasar akhlak yang baik. Di pesantren terdapat potensi kognitif yang bisa dikembangkan. Kita berharap para santri yang telah mengikuti pelatihan ini kelak akan dapat membanjiri internet dengan informasi-informasi yang bermanfaat, khususnya mengenai keislaman, sehingga bisa menjadi penyeimbang informasi-informasi yang tidak bermanfaat yang sampai saat ini masih mendominasi internet,'' tegas Slamet Riyanto yang juga Wakil Ketua Panitia Pelatihan Santri Indigo.

Taufik Hidayat, Operation Senior Manager Billing Operation PT Telkom menegaskan, teknologi informasi(TI) menjadi kekuatan penggerak perubahan yang sangat fenomenal di setiap aspek kehidupan. ''Karena itu,perkembangan TI dan internet perlu disikapi degantepat untuk memberi manfaat seluas-luasnya dan meminimalkan risikonya,'' tandasnya.Umat Islam, termasuk para santri, tidak boleh alergi internet. Islam tidak melarang penggunaan teknologi selama tidak merugikan orang lain, dan tidak digunakan
untuk menyekutukan-Nya. Teknologi yang dimanfaatkan dengan baik dan benar, akan menunjang ibadah. Begitu pula penggunaan internet di kalangan pesantren. Seperti kata Direktur IT PT Telkom Indra Utoyo, ''Internet dapat menjadi sarana syiar digital.''

Membuat Blog Pesantren
Setelah mendapatkan pembekalan berupa motivasi dan teori, para peserta pelatihan mempraktikkan langsung cara pembuatan blog. Mereka dibimbing langsung oleh Kabag Sistem Informasi Republika, Slamet Riyanto.

''Melalui pembuatan blog tersebut, para santri dan ustadz kita memperkenalkan pesantrennya dan berbagai aktivitas yang dilakukan oleh para santri pesantren tersebut kepada masyarakat luas,'' tandas Slamet Riyanto.

Pelatihan dan praktik pembuatan blog tersebut mencakup cara membuat blog di internet, imaging dan pengolahannya, mengisi content di internet, menyimpan album foto di internet, mengenal situs blogger, tahapan membuat blog, mengisi blog, dan membuat email. ''Diharapkan dengan adanya pembuatan blog pesantren akan terjadi interaksi antar-santri dan pesantren di
dunia maya, atau kita sebut Santri Indigo (Indonesia Digital Community),'' tutur Slamet Riyanto. Sumber: REPUBLIKA, Senin,24 Desember 2007, Hal:20

/span>
Postingan Lama Beranda
  • Recent Posts
  • Comments
Advertisement Csr Guru

Daily Video

Page

  • Beranda
Perpustakaan

Photos on Flickr

2010 Simplex Enews. All rights reserved.
Designed by SimplexDesign