PEKALONGAN--Para peserta pelatihan 'Santri Indigo' tahap ke II angkatan ke-tiga, yang digelar di pondok pesantren (ponpes) modern Al Quran, Buaran, Kota Pekalongan, Jawa Tengah mendapatkan pelajaran berharga dari banyak nara sumber.Pelatihan berlangsung selama dua hari tgl 27 dan 28 Januari 2010 itu menghadirkan banyak nara sumber yaitu Walikota Pekalongan, Direktu IT and Suplay PT Telkom-Indra Utoyo, Game Music Composer-Eko Ramaditya Adikara, Suaida Lubis dari Yogyakarta, dari Divisi Multimedia PT Telkom Tbk, Kuncoro Wastu Wibowo, Kepala Biro HU Republika DIY- Jawa Tengah, Indra Wisnu Wardhana, dari Republika Online Slamet RIyanto dan Mohamad Afif.
Pada sesi pertama hari ke-dua pelaksanaan pelatihan yang diusung Republika dan PT Telkom Tbk ini memang menghadirkan Rama -- panggilan akrab Eko Ramaditya Adikara-- yang dengan keterbatasan fisik (tuna netra) ternyata mampu memanfaatkan teknologi informasi (IT). "Keterbatasan fisik, bukan berarti hambatan bagi seseorang untuk menekuni dunia IT. Kuncinya adalah tekad dan kemauan keras untuk belajar," ungkap Rama di hadapan seratus peserta yang terdiri para santri dan pendampingnya, Kamis (28/1).
M Rizqon (25), salah seorang peserta dari ponpes modern Al Quran, Buaran mengakui pelatihan ini memberikan banyak pengalaman baru bagi dirinya dan seluruh peserta pelatihan. Apalagi dengan kehadiran para praktisi yang selama ini telah sukses dalam menekuni keahliannya di bidang IT. Sehingga dapat menginspirasi para peserta dalam memanfaatkan pesatnya perkembangan teknologi ini.
Pada hari kedua materi pelatihan difokuskan pada teori dan pembangunan web site, dengan harapan para santri dapat melakukan dakwah di dunia maya. Sehingga nantinya akan dapat berperan menjadi penetrasi informasi di internet.
Materi hari kedua didominasi oleh Slamet Riyanto yang memberikan teori tentang web dan praktek pembuatan web site oleh Mohamad Afif. Kedua pembicara dari Republika Online ini sekaligus menutup acara sampai sore hari.
Internet bukan untuk dijauhi, tapi untuk didekati.Fakta di atas menunjukkan betapa internet itu masih didominasi oleh hal-hal yang bersifat negatif, khususnya pornografi. Sebaliknya informasi-informasi yang bersifat positif, khususnya tentang Islam, muslim maupun pesantren, masih relatif sedikit.
Ini merupakan tantangan bagi umat Islam untuk mengisi bahkan membanjiri internet dengan informasi-informasi yang positif, khususnya hal-hal yang berkait dengan Islam, muslim, pesantren, santri dan lain sebagainya.
Hal tersebut merupakan fokus perhatian Pelatihan Santri Indigo, yang diadakan di Pondok Pesantren At-Taqwa Putra, Babelan, Bekasi, Jawa Barat, 30 November-1 Desember 2009. Pelatihan yang merupakan Program CSR Telkom-Republika itu merupakan Tahap II Angkatan ke-2. Kegiatan kali ini diikuti oleh 100 santri dari 40 pondok pesantren di Bekasi dan sekitarnya. Acara tersebut dibuka oleh Kepala Cabang Telkom Bekasi, Teguh, dan Pengasuh Ponpes At-Taqwa, KH ....
Ketua Pelaksana Pelatihan, Slamet Riyanto menjelaskan, Pelatihan Santri Indigo bertujuan agar para santri melek internet dan bisa berdakwah di dunia maya. "Selama ini masih banyak yang memandang internet sebagai dunia hitam. Internet jangan dijauhi. Sebaliknya, internet harus kita dekati. Internet harus kita berdayakan untuk dakwah. Istilah kerennya, ayo kita putihkan internet," paparnya.Ia lalu menjelaskan mengapa Telkom dan Republika menggelar Pelatihan Santri Indigo. "Santri Indigo adalah santri yang berkarya dan berbudaya digital, mengedepankan mentalitas positif dalam mencipta dan berkarya, dan membina silaturahmi dengan membentuk Indonesia Digital Community," kata Slamet Riyanto.
Mengapa harus santri? Setidaknya ada tiga alasan. Pertama, santri memiliki potensi kemampuan kognitif. Kedua, santri memiliki dasar keagamaan dan akhlak yang baik. Ketiga, untuk menunjukkan bahwa santri mampu berkarya.
Lalu, mengapa harus internet? Slamet Riyanto mengemukakan tiga alasan. Pertama, sebagai penetrasi informasi yang beredar di dunia maya. Kedua, peredaran informasi di internet tidak bisa dikendalikan. Ketiga, agar santri tidak gaptek.
Dalam pelatihan selama dua hari itu para peserta mendapatkan beberapa materi yang sangat bermanfaat untuk meningkatkan kemampuan mereka, khususnya di bidang digital.
Wahyu Hidayat (Telkom Bekasi), yang membawakan materi Internet Conection, menjelaskan bahwa Internet (interconnected networking) adalah suatu jaringan antarkomputer yang saling dihubungkan. Media penghubung tersebut bisa melalui kabel, kanal satelit maupun frekuensi radio, sehingga komputer-komputer yang terhubung tersebut dapat saling berkomunikasi. "Internet mempunyai banyak manfaat, seperti informasi dan berita, bisnis, gaya hidup, ilmu, hiburan, transaksi, dan sosial," ujar Wahyu Hidayat.
APV IT Service Strategy Telkom, Saiful Hidayat mengatakan peluang pemanfaat internet sangat terbuka luas. "Secara umum, pemanfataan tersebut bisa dikelompokkan ke dalam bidang politik, ekonomi, sosial budaya, dan pertahanan keamanan," ujar Saiful Hidayat.Saiful menegaskan, era digital saat ini membutuhkan budaya DIGITAL. Yakni, Dignity & Discipline (keteguhan & konsistensi karya), Innovative (inovasi tiada henti), Good governance (proses kerja yang kredibel utk kinerja lebih baik), dan Integral (holistik, interdependent, sinergi, co-evolution). Juga, Transparent (keterbukaan & sharing culture), Appreciative (saling menghargai hak karya cipta, interaktif), dan Legal (kepatuhan, be legal).
Pengamat blog, R Ajeng Nunuk Purwaningsih, yang membawakan materi Etika Ngeblog mengatakan kekuatan utama blog yaitu bisa mengungkapkan apapun sebebas-bebasnya, namun sekaligus merupakan titik terlemahnya. Karena itu penting sekali menggunakan hati nurani dan bersikap jujur. "Menuliskan sesuatu kejadian hendaknya jujur dari dalam hati , baik itu analis kejadian di sekitar kita ataupun pengalaman pribadi tergantung dari kategori apa yang hendak dituliskan . Misal menuliskan kejadian gempa di Tasikmalaya hendaknya berdasarkan fakta yang ada, kalaupun sumber berasal dari orang lain sebaiknya disebutkan sumbernya," tegas Ajeng Nunuk Purwaningsih.
Wakil Redaktur Pelaksana (Waredpel) harian Republika, Selamat Ginting, saat membawakan Materi Penulisan Populer menegaskan bahwa hal terpenting yang harus dilakukan untuk menjadi penulis adalah memulai menulis. "Ibarat naik sepeda, cara terbaik untuk belajar menulis adalah dengan melakoninya langsung. Temukan ide dan tuangkan ke dalam komputer atau kertas. Susun terlebih dahulu butir-butir kerangkanya karena--ibarat melukis di kanvas raksasa--gagasan besar selalu membutuhkan skala," tutur Selamat Ginting.Lalu? "Jabarkan setiap butir gagasan yang sudah tersusun itu ke dalam bahasa dan data yang lebih lengkap. Jadikan awal tulisan (teras/lead) sebagai kail untuk menarik pembaca, isi dengan gagasan paling kuat dan kalimat paling menyentuh. Ikuti dengan paparan atau gagasan lain yang sifatnya lebih detail," paparnya.
Untuk menjadi penulis yang berhasil, Selamat Ginting memberikan tips: "Tulislah ide Anda secara populer, karena tak semua orang ahli seperti Anda."
Satu Hari, Satu Informasi
Direktur PT Zahir International, Muhammad Ismail Thalib punya saran jitu untuk membanjiri internet dengan informasi-informasi positif, terutama segala hal berkait keislaman. "Posting-lah satu informasi positif setiap hari," ujar Muhammad Ismail saat membawakan materi Motivasi pada Pelatihan Santri Indigo di Bekasi, Selasa (1/12).Ia menjelaskan, saat ini di Indonesia terdapat sekitar 30 juta pengguna internet. Kalau separohnya saja, yakni 15 juta orang setiap hari mem-posting satu informasi yang positif, berarti dalam satu hari ada 15 juta informasi positif. Kalikan 30 hari dalam sebulan, jumlahnya mencapai 450 juta informasi positif. "Kalau hal ini terus-menerus dilakukan, insya Allah akan berdampak positif, yakni kita bisa turut memutihkan internet," papar Muhammad Ismail.
Ia menambahkan, sesungguhnya berdakwah lewat internet itu lebih gampang. "Dengan satu kali posting atau klik, kita bisa menyapa jutaan orang sekaligus. Dengan internet, kita dengan begitu gampang menyampaikan dakwah, dan dalam hitungan detik atau menit bisa mencapai ratusan ribu bahkan jutaan orang. Sebab, internet itu tidak ada batasan waktu maupun batasan tempat," tuturnya.
Menurut Muhammad, media internet dapat dijadikan sebagai sistem informasi pendidikan Islam, sistem informasi kajian Islam, dan wadah untuk belajar Islam secara online. Karena itu, dia mengajak seluruh santri peserta Santri Indigo maupun santri-santri lainnya di seluruh Indonesia untuk menjadikan internet sebagai media dakwah. "Mari kita jadikan internet sebagai ladang pahala. Mulai hari ini, ayo kita posting hal-hal yang baik melalui internet," kata Muhammad Ismail Thalib. irwan kelana. Sumber www.republika.co.id
Tim CSR Santri Indigo Telkom Republika mengadakan evaluasi kegiatan CSR Santri Indigo di Bandung, tepatnya di villa milik Bp Edi Kurnia, salah satu direktur PT Telkom Indonesia TbkEvaluasi CSR Santri indigo dilaksanakan selama dua hari tgl 17 dan 18 Desember 2008, hadir dalam evaluasi tersebut, Bp Dodi Gozali- Vice President PT Telkom Ind Tbk, Tim dari CDC Telkom, Ibu Bingah Rini (Telkom), sedangkan dari Republika Direktur Marketing Ibu Nucky Surachmad, Yulia Ayu, Slamet Riyanto, dan Aan.
Evaluasi berlangsung selama dua hari membahas tentang efektifitas training internet pesantren yang telah dilakukan selama satu tahun.
Setelah dua hari suntuk dengan rapat, kami diajak jalan-jalan ke kebun straberi dan yang tidak ketinggalan adalah belanja di wilayah dago, dan makan di rumah makan sapulidi, Bandung
PT Telkom Indonesia Tbk bekerjasama dengan Harian Umum Republika menyelenggarakan pelatihan internet untuk pesantren sebagai wujud tanggungjawab sosial melalui program Corporate Social Responsibility (CSR).
Pelatihan yang dikenal dengn sebutan "Santri Indigo" ini dilaksanakan di Pondok Pesantren Alquran KH Abdullah Syafi’ie, Pulo Air, Sukabumi, pimpinan KH.Abdul Rasyid AS
Target pelatihan adalah agar para santri dapat ikut berdakwah serta dapat menjadi penetrasi informasi di dunia maya dengan mnggunakan fasilitas blogger yang tersedia di Internet.
Pelatihan diikuti oleh 75 peserta terdiri dari 60 santri dan 15 ustad yang berasal dari 21 pesantren dan sekolah Aliyah di Sukabumi dan sekitarnya. Selanjutnya para santri akan bergabung dengan 375 alumni sebelumnya dalam wadah komunitas santri indigo.
Pelatihan yang dilaksanakan selama dua hari itu dibuka oleh Sekretaris Daerah Kabupaten Sukabumi Drs Deden Achadiyat. Hadir Sebagai pembicara Direktur IT dan Suplay PT Telkom (Indra Utoyo), Setya Hermawan (General Manager Kandatel Telkom Sukabumi), Kuncoro WastuWibowo (Telkom), Subroto (wakil Redaktur Pelaksana HU Republika), sedangkan proses pembuatan webblog dipandu oleh Slamet Riyanto dan M. Afif keduanya dari Republika Online.
Pelatihan juga diisi dengan materi proses kreatif digital dengan berdiskusi dengan grup musik Debu.
Pelatihan yang mengusung slogan "Bangun Kecerdasan Bangsa" ini merupakan angkatan ke enam dalam kurun waktu satu tahun.
Pelatihan yang dikenal dengn sebutan "Santri Indigo" ini dilaksanakan di Pondok Pesantren Alquran KH Abdullah Syafi’ie, Pulo Air, Sukabumi, pimpinan KH.Abdul Rasyid AS
Target pelatihan adalah agar para santri dapat ikut berdakwah serta dapat menjadi penetrasi informasi di dunia maya dengan mnggunakan fasilitas blogger yang tersedia di Internet.
Pelatihan diikuti oleh 75 peserta terdiri dari 60 santri dan 15 ustad yang berasal dari 21 pesantren dan sekolah Aliyah di Sukabumi dan sekitarnya. Selanjutnya para santri akan bergabung dengan 375 alumni sebelumnya dalam wadah komunitas santri indigo.
Pelatihan yang dilaksanakan selama dua hari itu dibuka oleh Sekretaris Daerah Kabupaten Sukabumi Drs Deden Achadiyat. Hadir Sebagai pembicara Direktur IT dan Suplay PT Telkom (Indra Utoyo), Setya Hermawan (General Manager Kandatel Telkom Sukabumi), Kuncoro WastuWibowo (Telkom), Subroto (wakil Redaktur Pelaksana HU Republika), sedangkan proses pembuatan webblog dipandu oleh Slamet Riyanto dan M. Afif keduanya dari Republika Online.
Pelatihan juga diisi dengan materi proses kreatif digital dengan berdiskusi dengan grup musik Debu.
Pelatihan yang mengusung slogan "Bangun Kecerdasan Bangsa" ini merupakan angkatan ke enam dalam kurun waktu satu tahun.
Akhir Pelatihan, Awal Perubahan Syiar: Santri Indigo telah membuka wawasan santri untuk bersyiar menggunakan internet.Cuaca di Sukabumi, Jawa Barat belakangan ini kurang bersahabat. Hujan yang kerap mengguyur kota ini membuat suhu semakin dingin. Namun, hal tersebut tidak menyurutkan minat peserta Pelatihan Santri Indigo angkatan keenam. Selama dua hari, dengan semangat mereka mengikuti rangkaian pemberian materi yang diselenggarakan di di Pondok Pesantren Alquran KH Abdullah Syafi’ie, Pulo Air, Sukabumi, akhir pekan lalu.
Santri Indigo merupakan salah satu program tanggung jawab sosial (corporate social responsibility/CSR) PT Telekomunikasi Indonesia (Telkom) dan Harian Umum Republika. Tujuan program ini antara lain memberikan wawasan, pengetahuan dan keterampilan mengenai internet kepada para santri. Sehingga para santri dapat mengembangkan diri setelah lulus dan berpartisipasi dalam membangun bangsa.
Tujuan lainnya adalah untuk membentuk komunitas pesantren yang dapat menjadi sarana syiar digital. Serta membentuk jejaring silaturahmi di antara para santri secara luas yang tidak dibatasi ruang dan waktu. Sebelumnya, pelatihan serupa telah diselenggarakan di lima kota, yaitu Depok, Bandung, Tangerang, Ciamis, dan Cirebon. Dengan jumlah alumni mencapai 375 santri.
Pelatihan kali ini merupakan pelatihan angkatan ke enam dan terakhir untuk periode 2007/2008. Tercatat ada sekitar 75 peserta yang berasal dari 21 pondok pesantren di Kabupaten dan Kota Sukabumi. Antara lain, SMA Al Musthofa, MA Yaspi Darussalam, SMA Hayatan Thayibah, SMK Ummul Quro, SMK Ar Rahmah, MA Darul Mutnalimin, MA Al Istiqomah, SMK Al Falah, STM dan SMEA Yaspinda, MA dan SMA Al Masthuriyah, MA Darul Islam, MA dan SMK Syamsul Ulum, dan MA Attaufiqiyah.
Acara dibuka oleh Sekda Sukabumi, Deden Achdiyat. Dalam sambutannya, ia sangat mendukung upaya yang telah dijalankan oleh Telkom dan Republika ini. Ia mengatakan, dengan pengetahuan akan dunia digital yang semakin meningkat, akan turut meningkatkan kualitas lulusan pesantren. ‘’Dengan begitu, diharapkan dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia secara keseluruhan,’’ tambahnya.
Pembicara selanjutnya adalah GM Kandatel Sukabumi Telkom, Setya Hermawan yang memberikan materi mengenai koneksi internet. Di awal kelas, ia menjelaskan mengenai pengertian internet dan apa fungsi dan kelebihan yang dimilikinya. Internet, katanya, bisa dikatakan merupakan kunci untuk pendidikan dan ilmu pengetahuan, komunikasi, ketenaran dan sumber ekonomi.
‘’Dengan internet, seseorang dapat menemukan apa pun yang dicari. Tidak hanya hal-hal yang memberikan kebaikan, namun juga hal-hal yang buruk. Karena itu, kuncinya ada di orang yang menggunakan internet,’’ jelas Setya.
Setya juga memberiakan informasi mengenai berbagai teknologi terkait internet. Seperti teknologi wi-fi dan 3G. Serta tren pemakaian internet di masa mendatang.
Para santri juga mendapat kesempatan untuk belajar menulis, khususnya di media massa. Materi ini disampaikan oleh Asisten Redaktur Pelaksana Republika, Subroto.
Acara dilanjutkan dengan pemberian materi mengenai membuat dan mengelola blog yang disampaikan oleh Slamet Riyanto dari Republika Online. Yanto menegaskan perlunya dakwah di Internet agar dapat menjadi penetrasi informasi. Lebih lanjut Yanto memberi contoh dengan mencoba menelusuri melalui search engini google di intenet. Kata "porn" ditemukan sebanyak 229 juta item, sementara kata "Islam", "Moslem", "Pesantren" seluruhnya tidak lebih dari 100 juta item. Jadi marilah kita "putihkan" internet demi anak cucu kita nanti kata Yanto yang secara tetap memberi materi pembuatan Blog pada 6 pelatihan santri indigo ini.
Pada hari kedua, Direktur IT & Supply Telkom, Indra Utoyo memaparkan mengenai internet sebagai wahana syiar digital. Ke depan, jelasnya, perkembangan zaman akan menuju era konseptual (ide). ‘’Siapa yang memiliki konsep atau ide ia yang akan menguasai dunia dan menjadi pemimpin,’’ ujar Indra.
Untuk menuju era itu, salah satu yang yang akan berperan adalah internet. Hanya saja, internet tidak hanya dapat dimanfaatkan untuk kebaikan saja. Untuk hal-hal buruk pun internet sangat berguna. Untuk itu, penggunaan internet harus dibarengi dengan budaya digital. Yaitu, bangga pada diri sendiri dan berdedikasi, inovatif, memiliki kredibilitas dan etika, dijalankan secara holistik dan terintegrasi, terbuka dan dapat dibagi, mengapresiasi dan menghargai karya orang lain, dan harus sesuai aturan.
Untuk itu, Indra menghimbau kepada para santri untuk menggunakan internet untuk keperluan syiar Islam. ‘’Jika menggunakan internet, syiar bisa dilakukan oleh siapa saja. Karena setiap orang memiliki kesempatan dan akses yang sama di internet. Dengan begitu, syiar Islam dapat dilakukan tanpa mengenal ruang dan waktu,’’ ungkap Indra.
Para santri pun mulai menyadari fungsi dan kegunaan internet. Selama ini banyak santri yang memandang internet sebagai sesuatu yang buruk. Seperti Rizki, santri dari MA Syamsul Ulum. ‘’Melalui pelatihan ini saya baru tahu kalau internet bisa memberikan manfaat dan juga dapat digunakan untuk syiar Islam,’’ paparnya.
Tidak hanya Rizki. Karena, meskipun mereka tahu tentang internet, tapi pengetahuannya hanya sedikit. Fikri misalnya, santri dari MA YLPI Ibadurrahman ini hanya tahu internet sebatas chatting dan alat bantu untuk mencari informasi ketika ada tugas sekolah. ‘’Saya sangat senang mengikuti pelatihan ini. Terutama materi mengenai cara membuat blog. Sayang acaranya hanya sebentar,’’ ujar Fikri.
Angkatan terakhir
Pelatihan kali ini merupakan angkatan terakhir dari rangkaian Pelatihan Santri Indigo periode 2007/2008. Untuk itu, Indra mengatakan akan mengadakan evaluasi terkait pelatihan ini. Akan ada penilaian efektivitas materi yang diberikan. Namun, Indra mengatakan akan tetap menggelar pelatihan ini. ‘’Kami pun berencana untuk melakukan penambahan materi yang diberikan. Sehingga para santri menjadi lebih kaya dan dapat lebih memanfaatkan internet untuk keperluan dakwah,’’ jelas Indra.
Juara lomba blog Indonesia yang juga karyawan Telkom, Kuncoro Wisnuwibowo menjadi pembicara terakhir. Ia memaparkan mengenai cara mempromosikan blog. Di antara beberapa cara, katanya, cara yang paling efektif adalah dari sisi konten. Blog harus diisi dengan konten yang menarik, fokus pada satu masalah, berbobot, dan unik. Serta harus disajikan dengan ilustrasi dan desain yang menarik minat orang lain.m‘’Yang juga harus diingat adalah harus dilakukan secara berkeseinambungan. Tidak boleh kemudian berhenti di tengah jalan,’’ jelas Kuncoro.
Begitu pula dengan Pelatihan Santri Indigo ini. Angkatan ini boleh jadi merupakan angkatan terakhir untuk periode 2007/2008. Namun bukan berarti menjadi akhir untuk selamanya. Justru harus menjadi awal untuk kegiatan syiar menggunakan media baru. Yaitu siar Islam menggunakan internet.ci1/yto Lihat juga http://www.republika.co.id/berita/13109.html
Pelatihan Internet Pesantren tahap ke IV akan digelar tanggal 23 dan 24 Juni 2008 di Pondok Pesantren Darussalam - Ciamis - Jawa Barat, dan akan dibuka oleh Gubernur Jawa Barat H Ahmad Heryawan.Pelatihan dengan sebutan santri indigo ini akan diikuti oleh 75 santri dan ustad yang terdiri dari 21 pesantren di wilayah Ciamis.
Target pelatihan yang diusung oleh PT Telkom Indonesia Tbk dan HU Republika ini adalah agar para santri bisa membuat dan memiliki web dalam bentuk Blok dan membentuk sebuah komunitas yang tujuannya untuk berdakwah melalui dunia internet.
Temapt training adalah di Kampus Pondok Pesantren Darussalam, Jl KH Ahmad Fadlil I Ciamis Jabar. Pesantren yang diasuh oleh K.H. IRFAN HIELMY dinilai representatif untuk pelaksanaan training yang syarat dengan teknologi informasi ini.
Program CSR PT Telkom dan REPUBLIKA yang dituangkan dalam pelatihan internet untuk pesantren berlangsung di Pondok Pesantre Kempek - Palimanan, Cirebon.Seperti pelatihan sebelumnya, saya selalu mengawal pelatihan dari awal sampai pungkas. Sebagai pengawal maka siap untuk menjadi ban serep kapanpun ketika salah satu roda mengalami gangguan.
Di pondok pesantren terbesar diwilayah Palimanan Cirebon ini seperti biasa saya berperan sebagai MC saat acara seremoni, hadir sebagai motivator Prof Jimly Assidiqie, anggota mahkaman Konstitusi RI.
Jatah ngisi sebagai pengajar tidak berubah yaitu empat jam, bahkan lebih. Dua jam untuk teori Blog dan internet dan dua jam berikutnya untuk praktik membuat blog.
Pelatihan yang berlangsung dua hari mulai tanggal 25 dan berakhir 26 Agustus 2008 ini cukup menguras tenaga, karena udara yang panas dan maklum para peserta belum semuanya mengenal tentang teknologi informasi.
Apa yang saya peroleh dari pimpinan pondok yaitu Kyai Aqil Siraj hampir sama dengan kyai yang lain yaitu keikhlasan dan istiqomah dalam membangun sebuah peradaban di pesantren (Slamet Riyanto)
CIAMIS -- Harian Umum Republika bersama PT Telkom Indonesia Tbk menggelar acara pelatihan internet di Pondok Pesantren Darussalam, Kecamatan Cijeungjing, Ciamis, Jawa Barat. Acara mengambil tema 'Internet Pesantren Sebagai Wahana Syiar Digital'.Acara tersebut digelar sejak Senin hingga Selasa (23-24/6). Sedikitnya, ada 75 santri dari 26 pesantren yang tersebar di 12 kecamatan mengikuti kegiatan tersebut. Selain diisi pelatihan internet dan komputer, acara juga diisi pelatihan menulis dan pemberian motivasi diri. Khusus materi yang disebut terakhir, para santri mendapat kesempatan sangat istimewa karena yang memberikannya adalah Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan. Materi motivasi tersebut berlangsung sekitar pukul 13.00.
Dalam ceramahnya, Heryawan mengatakan bahwa kemajuan diri sangat berpengaruh dalam memotivasi kemajuan bangsa dan negara. Kata dia, keberlangsungan negara sangat erat dipengaruhi oleh keteguhan bangsanya. ''Karena itu bangsa Indonesia harus berperan dalam membangun negaranya. Bisa dari berbagai aspek,''ucap Heryawan.
Dijelaskan, untuk memacu kemajuan diri, faktor yang utama harus dilakukan adalah pembenahan aspek pendidikan. Aspek tersebut, menurut Heryawan, akan bisa menunjang semua keberhasilan yang sedang dibangun di berbagai sektor. Karena itu, penting juga bagi pemerintah untuk selalu meningkatkan pendanaan untuk sektor pendidikan. ''Insya Allah, di Jawa Barat kami sudah berbulat tekad untuk menggolkan anggaran pendidikan sebesar 20 persen,'' ungkap Heryawan yang langsung disambut tepukan tangan para santri dan tamu undangan yang hadir.
Heryawan juga mengungkapkan, saat ini sedang diwacanakan agar daerah yang kemampuan APBD-nya sudah mencapai Rp 1 triliun atau lebih, maka pemerintah pusat tidak akan memberikan dana alokasi khusus (DAK). Dana tersebut, kata dia, salah satunya diperuntukkan bagi pendanaan pendidikan di daerah. ''Jadi, kalau ada daerah yang APBD-nya besar, maka DAK-nya akan dialihkan ke daerah yang lebih membutuhkan,'' tutur Heryawan.
Selain gubernur, acara tersebut dihadiri Pimpinan Ponpes Darussalam, KH Irfan Hielmy, Kepala Perwakilan Republika Jawa Barat, Yusup Supriyatna, dan Kepala Kantor Daerah PT Telkom (Kandatel) Ciamis, Rosanto. Khusus untuk pelaksanaan acara tersebut, PT Telkom sengaja membangun jaringan internet Speedy baru ke pesantren tersebut.
Menurut Kandatel Ciamis, Rosanto, pembangunan jaringan baru di kawasan tersebut karena selama ini belum ada jaringan internet Speedy. ''Makanya kita sengaja pasang baru karena kita ingin agar para santri mendapat kelancaran berjelajah internet dengan cepat saat pelatihan,'' ungkap Rosanto. Selanjutnya, kata dia, jaringan yang ada itu akan digunakan oleh warga dan lembaga pesantren yang membutuhkan koneksi internet cepat.
Sementara itu menurut Staf Bagian Republika Online, Slamet Riyanto, tujuannya diadakannya pelatihan, semata-mata karena ingin memberikan akses yang lebih mudah bagi para santri untuk melakukan syiar dakwah melalui internet. Selama ini, menurut Slamet, akses berinternet sering disalahartikan para remaja. Padahal, media internet memiliki peran yang luar biasa dalam menyebarkan informasi. ''Penyebarannya sampai ke seluruh dunia. Itu sangat dahsyat,''tandas dia. mus. Sumber: Republika, 25 Juni 2008, Hal: Nasional
Slamet Riyanto menyerahkan buku sebagai cinderamata kepada salah satu personil grup musik Debu.Grup musik Debu ikut memeriahkan pelatihan internet pesantren wahana syiar digital di Pondok Pesantren Daar El Qolam Tangerang Banten.
Grup musik Debu memiliki ciri khas tersendiri, dengan liriknya sufistik, mistis, sebagai ungkapan kerinduannya keapda sang maha pencipta.
Kebersamaan Debu dalam training ini diharapkan memberi pencerahan dan kreatifitas kepada para santri
Pesantren selalu diidentikkan sebagai lembaga pendidikan keagamaan yang tidak banyak mempelajari urusan duniawi, apalagi teknologi canggih. Lembaga pendidikan tertua di Tanah Air itu pun masih sering diidentikkan sebagai lembaga pendidikan orang desa. Tapi, kesan itu pelan-pelan mulai terkikis.Anak-anak pesantren kini mulai bersentuhan dengan teknologi. ''Jangan dikira kami hanya bisa baca doa atau tahlilan. Kami pun bisa bersaing dalam pelajaran umum, seperti fisika, matematika, kimia, atau bikin web-blog,'' kata Edi Setiawan, santri Pondok Pesantren (PP) Darussaadah, kemarin.
Seorang santriwati, Arifatus Syarifah, mengatakan, ''Bagi sebagian orang, mungkin kami para santri dianggap baru belajar internet atau komputer. Justru, jauh sebelumnya, kami sudah bisa berinternet.''
Pesantren memang mulai berubah. Persepsi bahwa pesantren hanya tempat menimba ilmu keislaman--tanpa ilmu umum--atau memandang pesantren terbelakang, dinilai ketinggalan. ''Mereka tidak pernah tahu kebenaran sesungguhnya yang ada di pesantren,'' kata KH Ahmad Syihaduddin, pengasuh PP Daar El-Qolaam, Gintung, Jayanti, Serang.
Syihaduddin menyampaikan perubahan pesantren itu di sela acara 'Pelatihan Internet, Wahana Syiar Digital Indigo' di Gintung, Kamis (24/4). Acara itu digelar sebagai bagian dari Corporate Social Responsibility (CSR) Telkom-Republika.
Pelatihan tersebut diikuti sebanyak 75 santri dari 19 PP di Serang, termasuk Edi Setiawan dan Deddy Ibrahim. Dua hari mereka belajar tentang manfaat internet, membuat web-blog (blogspot), serta cara menyambungkan (koneksi) komputer dan telepon untuk melakukan komunikasi dengan internet. Selain itu, mereka juga belajar cara menulis berita, opini, dan artikel-artikel keislaman.
Bekal itulah yang membuat para santri yang tergabung dalam Komunitas Indigo siap berdakwah lewat internet. Misi dakwah itu didorong oleh banyaknya konten porno di dunia maya. Saat ini, bila mengetik kata 'porn' di mesin pencari di internet, jumlah yang muncul mencapai 200 juta lebih. Jauh lebih banyak dibanding kata 'Islam' yang hanya 50 juta. ''Kami siap berdakwah dan mensyiarkan Islam lewat internet,'' timpal Deddy Ibrahim, salah seorang santri yang mengikuti pelatihan.
Kondisi memprihatinkan di dunia maya itu pula yang menjadi salah satu alasan digelarnya pelatihan. ''Kita memang sangat prihatin. Karena itu, melalui pelatihan yang digelar bersama Telkom dan Republika ini, kami berharap akan tercipta masyarakat yang berbudi luhur dalam era digital ini,'' papar Direktur IT PT Telkom, Indra Utoyo.
Dalam pelatihan di Gintung, para pembicaranya adalah Kumayl Mustafa dari Grup Musik Debu, Syaiful Hidayat dari Telkom, serta Arif Supriyono dan Slamet Riyanto dari harian Republika.
Dalam pelatihan web-blog, para santri mampu membuat desain dan fitur-fitur yang menarik dan menyejukkan. Isi web-blog yang mereka buat umumnya tentang nilai-nilai Islam dan ajaran Alquran. Panitia pun memberikan penghargaan bagi pembuat web-blog terbaik.
''Kini, saatnya kita berdakwah melalui internet. Kita menyebarkan nilai-nilai kebenaran dan keluhuran kepada seluruh pengguna internet dari ajaran Islam,'' kata Ketua Panitia Pelatihan, Yulia R.
Pimpinan Redaksi Republika, Ikhwanul Kiram Mashuri, mengatakan musuh terbesar umat Islam saat ini adalah kebodohan dan kemiskinan. Karena itu, dia berharap para santri bisa melahirkan ide-ide kreatif untuk memajukan dirinya.
Mustafa Dawood, vokalis grup musik Debu, mengatakan untuk membangun kreativitas, kuncinya harus berawal dari hati. ''Kalau tidak didorong oleh hati, sesuatu itu tidak akan berhasil. Jika kita mengerjakan sesuatu dengan hati yang tulus, niscaya orang lain pun akan bisa menerimanya,'' kata pria kelahiran Oregon AS pada 9 Juli 1981 ini.
Indra Utoyo mengatakan pelatihan yang diselenggarakan Telkom-Republika ini dimaksudkan sebagai upaya membangun komunitas santri yang kreatif di era digital saat ini. ''Melalui pelatihan ini, kita berharap nantinya akan muncul santri-santri kreatif dalam membawa syiar Islam di masa depan. Sesuai dengan harapan kami, mereka menjadi santri Indigo.
Yaitu, santri yang berbudaya dan menguasai teknologi,'' kata Indra. Dia berharap program itu melahirkan ribuan santri yang mampu berkarya dan berbudaya digital serta mengedepankan mentalitas positif dan berkarya. Terutama, dalam membentuk komunitas Indigo.
Dalam menjalankan CSR-nya, PT Telkom dan harian Republika memiliki program pelatihan guru dan santri Indigo (Indonesia Digital Community). Program santri Indigo merupakan pengembangan pelatihan guru pada kerja sama tahap (tahun) kedua.
Pelatihan santri Indigo ini menyasar pesantren di Jakarta, Depok, Bogor, Ciamis, Garut, dan Bandung. Program Indigo pada 2008 ini akan digelar enam angkatan dengan sasaran bisa mendidik sedikitnya 450 santri. Tujuan utama program ini adalah mengenalkan para santri dengan teknologi digital. Sumber: REPUBLIKA - Jumat, 25 April 2008, Hal: 1
Internet dapat menjadi sarana syiar digitalInternet ibarat pisau bermata dua. Di satu sisi, internet berbahaya kalau disalahgunakan, misalnya menyangkut masalah pornografi. Namun di sisi lain, bila dipergunakan dengan baik, internet juga menawarkan peluang dan memberikan manfaat yang sangat banyak, termasuk dalam bidang dakwah.
Karena itu, generasi muda perlu sekali mengenal dan memahami (awareness) tentang internet, agar bisa mengambil manfaat yang sebesar-besarnya dan terhindar dari hal-hal yang tidak baik. Hal ini pun berlaku bagi kalangan pesantren yang merupakan salah satu pusat pencetak kader-kader dakwah di masa depan. Para santri harus melek teknologi digital (internet).
Berangkat dari pemikiran tersebut, PT Telkom dan harian umum Republika meluncurkan program Corporate Social Responsibility (CSR) untuk kalangan pesantren bertajuk 'Santri Indigo'. ''Kegiatan ini bertujuan agar para santri tidak gagap teknologi (gatek) internet. Kita berharap dari kegiatan ini akan lahir santri-santri yang berkarya dan berbudaya digital, mengedepankan mentalitas positif dalam mencipta dan berkarya, dan membina silaturahmi dengan membentuk Indonesia Digital Community (Indigo),'' kata Direktur IT PT Telkom Indra Utoyo.
Pelatihan Santri Indigo Angkatan Pertama digelar di Pesantren Al-Hamidiyah, Depok, Jawa Barat, 22-23 Desember 2007. Pelatihan tersebut diikuti 60 santri dan 15 ustadz yang berasal dari sembilan pesantren diDepok. Yakni, Pesantren Al-Hamidiyah, Al-Hidayah, Hidayatullah, Al-Ittihad,
Al-Karimiyah, Nurul Huda, Qatrun Nada, Al-Awwabin, dan Nurul Zahro.
Acara pelatihan tersebut diresmikan oleh Walikota Depok Nur Mahmudi Ismail, dan dihadiri antara lain, Direktur Marketing PT Republika Media Mandiri (RMM) Nuky Surachmad, Pemimpin Redaksi Harian Umum Republika
Ikhwanul Kiram Mashuri, Eksekutif General Manager Telkom Divisi Regional Jakarta Adeng Ahmad, dan GM Telkom Bogor Pasabri.
Kegiatan ''pesantren goes to digital'' ini diberikan kepada santri dalam bentuk Workshop selama dua hari. Hari pertama berupa motivasi dan teori tentang beberapa bidang ilmu digital yang diperlukan. Sedangkan hari kedua, santri langsung praktik di komputer untuk membuat digital library, blog, networking dan lain-lain. ''Untuk itu, tiap kelompok peserta (pesantren) mendapatkan satu meja dan beberap komputer, agar bisa langsung praktik di tempat,'' kat Ketua Panitia Pelatihan Santri Indigo, Dedik Supardiono.
Bahaya versus Manfaat
Indra Utoyo menjelaskan, ibarat pedang bermata dua (sebagaimana halnya produk teknologi lain), mempunyai sisi baik dan buruk. Apabila sisi buruk yang digunakan, maka kerugianlah yang didapat. Namun jika sisi baik teknologi yang dimanfaatkan, maka kemajuan dan keuntungan yang akan diraih. ''Mentalitas positif dalam memanfaatkan internet akan membawa pada kemudahan-kemudahan dalam hidup. Para santri yang melakukan dakwah akan sangat terbantu dengan adanya teknologi internet. Internet dapat menjadi sarana syiar digital,'' tandas Indra Utoyo.
Hal senada diungkapkan Muhammad Fahmi Aulia, Senior IT Business Development Rileks.com. Ia mengemukakan, banyak ancaman atau bahaya di internet, misalnya pornografi, bisnis palsu (penipuan), carding (pencurian identitas kartu kredit), virus dan hacking. ''Namun di sisi lain, banyak pula manfaat internet, misalnya pengetahuan (nyaris tanpa batas), sarana komunikasi murah (email, chat, telepon internet), sarana promosi massal (bisnis), nyari tidak ada batas wilayah dan waktu, serta sarana sosial yang begitu luas,'' papar Muhammad Fahmi Aulia.
Ariyanto dari MACS 909 menjelaskan, begitu banyak manfaat yang bisa dipetik dari teknologi digital. ''Kita bisa membuat digital illustration, digital imaging, digital electronics, digital website, digital music, e-book, blog, digital video, sound designs, digital photography dan lain-lain,'' urainya.
Karena itu, para santri dan da'i pun perlu memanfaatkan dan mengoptimalkan teknologi digital tersebut, untuk berbagai hal yang positif dan mendidik, termasuk berdakwah. ''Jadilah santri dan da'i yang kreatif. Manfaatkanlah teknologi digital. Biarkan dunia mendengar ide-idemu melalui teknologi digital,'' tandas Ariyanto.
Pesantren dan internet
Fahmi Aulia menegaskan, bahwa pesantren pun perlu sekali memanfaatkan internet dengan sebaik mungkin. ''Internet merupakan media dakwah, untuk berjihad, serta memberitahukan kebenaran. Internet pun merupakan media silaturahim dengan sesama saudara (Muslim) tanpa mengenal batas (ruang dan waktu),'' tegasnya.Ia mencontohkan internet sebagai media dakwah. Kini banyak situs atau media online yang menyajikan informasi mengenai keislaman/dakwah, termasuk mengenai ekonomi syariah. Misalnya, Hidayatullah.com, eramuslim.com, Al-ikhwan.net, Syariahonline.com, khutbahjumat.wordpress.com, Dakwatuna.com, dan Tausiyah275.blogsome.com.
Meskipun demikian, jumlah informasi mengenai Islam yang tersedia di internet masih sangat minim dibandingkan dengan informasi-informasi lainnya (yang tidak bermanfaat). ''Kalau kita perhatikan mengenai perbandingan antara informasi Islam dan hal-hal lain yang tidak bermanfaat, hati kita akan miris, karena jumlahnya masih sangat jomplang,'' kata Kabag Sistem Informasi harian umum Republika, Slamet Riyanto.Ia lalu mencontohkan kata ''porn'', ''Islam'' dan ''moslem''. ''Kalau kita searching di Google, data hari Ahad, 23 Desember 2007, pukul 10.00, kata ''porn'' mencapai 329 juta item, sedangkan kata ''Islam'' ada 91,5 item dan moslem ada 2,95 item,'' paparnya.
Karena itu, umat Islam perlu melakukan penetrasi item mengenai Islam, pesantren dan lain-lain yang berkaitan dengan dakwah Islamiyah ke internet sebanyak-banyaknya. ''Inilah dasar kami mengadakan Pelatihan Santri Indigo. Para santri mempunyai dasar akhlak yang baik. Di pesantren terdapat potensi kognitif yang bisa dikembangkan. Kita berharap para santri yang telah mengikuti pelatihan ini kelak akan dapat membanjiri internet dengan informasi-informasi yang bermanfaat, khususnya mengenai keislaman, sehingga bisa menjadi penyeimbang informasi-informasi yang tidak bermanfaat yang sampai saat ini masih mendominasi internet,'' tegas Slamet Riyanto yang juga Wakil Ketua Panitia Pelatihan Santri Indigo.
Taufik Hidayat, Operation Senior Manager Billing Operation PT Telkom menegaskan, teknologi informasi(TI) menjadi kekuatan penggerak perubahan yang sangat fenomenal di setiap aspek kehidupan. ''Karena itu,perkembangan TI dan internet perlu disikapi degantepat untuk memberi manfaat seluas-luasnya dan meminimalkan risikonya,'' tandasnya.Umat Islam, termasuk para santri, tidak boleh alergi internet. Islam tidak melarang penggunaan teknologi selama tidak merugikan orang lain, dan tidak digunakan
untuk menyekutukan-Nya. Teknologi yang dimanfaatkan dengan baik dan benar, akan menunjang ibadah. Begitu pula penggunaan internet di kalangan pesantren. Seperti kata Direktur IT PT Telkom Indra Utoyo, ''Internet dapat menjadi sarana syiar digital.''
Membuat Blog Pesantren
Setelah mendapatkan pembekalan berupa motivasi dan teori, para peserta pelatihan mempraktikkan langsung cara pembuatan blog. Mereka dibimbing langsung oleh Kabag Sistem Informasi Republika, Slamet Riyanto.
''Melalui pembuatan blog tersebut, para santri dan ustadz kita memperkenalkan pesantrennya dan berbagai aktivitas yang dilakukan oleh para santri pesantren tersebut kepada masyarakat luas,'' tandas Slamet Riyanto.
Pelatihan dan praktik pembuatan blog tersebut mencakup cara membuat blog di internet, imaging dan pengolahannya, mengisi content di internet, menyimpan album foto di internet, mengenal situs blogger, tahapan membuat blog, mengisi blog, dan membuat email. ''Diharapkan dengan adanya pembuatan blog pesantren akan terjadi interaksi antar-santri dan pesantren di
dunia maya, atau kita sebut Santri Indigo (Indonesia Digital Community),'' tutur Slamet Riyanto. Sumber: REPUBLIKA, Senin,24 Desember 2007, Hal:20
/span>